Laman

Makam Perwira Jerman era Nazi di Arca Domas Bogor


Dimanakah tepatnya tempat ini? wah kalo ditanya saya juga bingung. Karena meskipun nyetir sendiri, tapi terlalu konsen sama difficulty jalan yang nightmare. Pokoknya nggak jauh dari tugu Gadog, belok kanan, mblusuk2 terus sampai Desa Sukaresmi. Tapi tenang, jalannya udah aspal kok. Lokasinya juga segar dan bisa ngelihat Gn.Salak dari lokasi ini.

Kompleks makam ini terdiri dari 10 buah makam, dengan 2 diantaranya tidak diketahui apapun infonya, sehingga ditulislah Unbekant di nisannya alias Unknown.

Nah kenapa ada prajurit Jerman bisa sampai ke desa ini?

Sejarahnya erat kaitannya dengan U-boat, tipe kapal selam milik Jerman yang diterjunkan untuk membantai lawan di kawasan Asia. Singkat cerita, saat Jepang berkuasa tahun 1943, Jerman pun ikut serta menjaga Indonesia sebagai milik kawannya itu. Nggak tanggung-tanggung, Jerman mengirimkan 8 kapal selamnya, U-859 dan UIT-23 (kapal selam eks Italia yang diserahkan untuk Jerman di Singapura, 10 September 1943). Kapal-kapal selam tersebut dipasang di Teluk Benggala sebagai pengaman pintu masuk di Selat Malaka, yang memakai Sabang dan Penang sebagai pelabuhan sandar. Untuk mengawal Jawa hingga ke Laut Cina Selatan, di utara Jawa ditempatkan U-168 dan U-183. di Laut Selatan Jawa dipasang U-196. di perairan timur ditempatkan U-537. di samping itu, terdapat juga kapal-kapal selam U-195 dan U-219 yang turut mendukung operasi melawan Sekutu.


Saat perang usai, sejumlah orang di antara serdadu-serdadu Jerman tewas : tiga perwira dibunuh oleh orang Indonesia, lima lainnya ada yang meninggal karena sakit dan ada pula yang tertembak dalam perjalanan kereta api dari Bandung ke Jakarta. Jadi, delapan orang Jerman tewas selama periode tersebut. Sisanya menyelamatkan diri di pulau Onrust (kep.seribu), sebelum dipulangkan kembali ke Jerman tahun 1946.

Di pemakaman ini juga terdapat tugu yang didirikan pada tahun 1926 sebagai peringatan atas Skuadron Asiatik (Ostasiatischen Beschwader), satuan angkatan laut Jerman pada Perang Dunia I yang melakukan tugas perang di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Tanah ini dulunya (sebelum menjadi pemakaman) adalah merupakan tanah milik kakak-beradik Jerman, yaitu Theodor dan Emil Hellferich, yang merupakan adik dari Karl Helfferich, mantan wakil perdana menteri di bawah Kekaisaran Jerman-Austria saat itu. Karena itulah kedua orang saudaranya kemudian membangun sebuah monumen untuk memperingati Deutsch-Ă–stasiatisches Geschwader (Armada Jerman Asia Tenggara) yang dipimpin oleh Admiral Graf Spee yang ditenggelamkan oleh tentara Britania. Di monumen tersebut ditulis kata-kata dalam bahasa Jerman yang berbunyi: "Untuk para awak Armada Jerman Asia Tenggara yang pemberani 1914. Dibangun oleh Emil dan Theodor Helfferich." Sebagai penghargaan pada kepercayaan dan tradisi lokal, mereka juga memesan patung Buddha dan Ganesha di studio pinggir jalan setelah terpeson pada candi Prambanan di Jogja, yang ditempatkan di kedua sisi monumen itu.

Tugu ini diresmikan pada 1926 ketika kapal penjelajah Jerman "Hamburg" berkunjung ke Jawa. Seorang perwira muda kapal itu, Hans-Georg von Friedeburg, menulis tentang upacara itu dalam bukunya yang berjudul "32 000 Seemeilen auf blauem Wasser: Erlebnisse auf der Weltreise des Kreuzers 'Hamburg'" ("32.000 mil laut di laut biru: Pengalaman dalam perjalanan keliling dunia dengan kapal penjelajah "Hamburg") .

Tapi ternyata kisah sejarah di tempat ini tidaklah semuda itu. Jauh sebelum jasad para tentara Jerman bersemayam disini, Arca Domas telah menjadi saksi sejarah, bahkan kemungkinan besar dari era pra-hindu-buddha.

Isidore van Kinsbergen pernah mengabadikan situs Arca Domas, yang menyimpan banyak sekali peninggalan berupa arca-arca manusia, monyet dll, serta batu menhir. Kisah ini juga dikisahkan oleh Raffles dalam bukunya History of Java (1817).

Sayang kisah ini harus terhenti akibat menghilangnya arca-arca dan menhir tersebut. Entah kemana hilangnya. Namun bagaimanapun sayang banget..
kalau yang mau lihat arca nya bisa dilihat di

Arca Domas dalam bahasa sunda berarti 800 patung. Menurut legenda setempat, patung-patung tersebut merupakan penguasa terakhir Padjajarang, Sili-wangi bersama para pengikut dan keluarganya yang dikutuk Tuhan menjadi batu, karena menolak untuk mempercayai Islam.

Kisah lain kemudian muncul menyangkut bekas kaki pada suatu lempengan batu di lokasi tersebut. Konon, istri dari Poerwakali, anak Siliwangi, lolos dari kutukan setelah bersedia memeluk Islam akibat pengaruh seorang imam Arab. Namun ia tetap tidak dapat menyelamatkan suaminya yang di depan matanya sendiri berubah menjadi batu. Ia tetap setia. Ia kemudian membangun gubuk di bawah pohon waringin dekat patung suaminya. Setiap waktu ia isi dengan berdoa, menangis, memeluk, dan membisikan kata-kata lembut serta sumpah kesetiaan abadi kepada sang batu. Air matanya mengalir jatuh ke atas batu di bawah kakinya. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, sampai akhirnya batu yang diinjaknya menjadi lembut dan menjadi liat, itulah konon yang menyebabkan bekas kaki di sebuah lempeng batu di dekat pohon Waringin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...