Laman

Balekambang, Sebuah Warisan bagi Kesenian dan Tata Ruang Kota Solo


Sudah sejak secil saya mengenal nama Balekambang, yaitu sebuah tempat di pinggir jalan besar di daerah belakang pasar depok. Tempat dengan keadaan gelap, remang-remang, angker dan kumuh yang di sisi dalamnya berdiri sebuah gedung pertunjukan dan kolam yang tidak terawat. Orang tua saya menanamkan sebuah mindset bahwa dulu tempat kumuh itu adalah sebuah tempat yang penuh kenangan dan kejayaan. Dogma seperti itu lah yang ayah dan ibu saya tanamkan kepada saya, bahkan eyang dan salah satu budhe saya juga ikut-ikutaan dengan beragam ceritanya.

Itu dulu, cerita ketika saya masih “putih merah” tapi sekarang ketika saya sudah “bebas” dan mengambil konsentrasi di sejarah, ternyata memang benar adanya. Balekambang adalah sebuah ikon kejayaan Solo di masa lampau yang berada di bawah naungan swapraja Mangkunegaran. Dibangun oleh Sorjosoeparto yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro VII pada 26 Oktober 1921, Balekambang adalah sebuah manifestasi dari kecintaan Sorjosoeparto terhadap kedua putri tertua beliau yang bernama partini dan partinah.

Origin
Taman Balekambang pada masa dulu tidak berdiri sendiri, ada dua bagian dari taman tersebut. Yang pertaman adalah Partini tuin (taman air partini) dan Partinah bosch (hutan kota partinah) yang merupakan satu kesatuan dari taman Balekambang ini. Konsep awal pembangunan Balekambang adalah sebagai ruang publik yang meniru hutan buatan dan taman air yang ada di negeri Belanda. Dimanifestasikan sesuai dengan kesukaan Partini akan taman air dan Partinah akan pemandangan hijau yang teduh.


Seperti yang diungkap dalam babad Solo karya RM Sajid ”Ing akhir tahun 1921 dipun bikak satungiling taman hiburan ingkang resminipun nama ‘Partini Tuin’, tegesipun Taman Partini. Partini punika putra dalem ingkang sepuh piyambak. Nanging umum mastani Balekambang.” (Pada akhir tahun 1921, dibuka sebuah taman hiburan yang resminya bernama Partini Tuin, yang artinya Taman Partini. Partini itu putra dalem yang tertua. Namun umum menyebutnya dengan nama Balekambang).

Disebutnya sebagai “Balekambang” karena konon kataya bearsal dari kata Bale, yang artinya Balai atau rumah dan Kambang, yang artinya mengapung. Keduanya adalah unsur bahasa jawa. Penamaan balekambang sepertinya berasal dari perspektif apung yang akan kita lihat pada rumah-rumahan yang berada di seberang kolam Partini, seolah-olah rumah itu mengapung karena di depannya terhampar kolam buatan.

Daerah Resapan dan Persaingan Dua Raja
Tempat seluas 10 ha itu merupakan sebuah simbol kebesaran swapraja Mangkunegaran. Selain sebagai daerah resapan air dan tata air kota, Balekambang juga di fungsikan menjadi taman rekreasi dan memperindah tata ruang kota.

Mangkraknya kawasan Balekambang nampaknya memaksa sebuah revitalisasi, dan revitalisasi itu kini telah terealisasikan. Pemkot Solo mengalokasikan dana sebesar 7,5 Miliar rupah untuk merevitalisasi taman Balekambang, mengembalikan kejayaan masa lampaunya dengan tidak menghilangkan konsep aslinya, yakni sebagai hutan buatan dan ruang publik yang juga berfungsi sebagai daerah resapan air dan paru-paru kota.

Hutan kota taman Balekambang yang juga difungsikan sebagai daerah resapan air ini disebut-sebut sebagai bentuk persaingan anatara Mangkunegoro VII dan Paku Buwono X dari Kraton Kasunanan. Paku Buwana X juga memiliki Kebon rojo atau yang sekarang kita kenal dengan Sriwedari yang di kala itu juga difungsikan sebagai daerah resapan di Solo.

Kedua daerah resapan itu mengambil air dari waduk cengklik yang ada diBoyolali untuk mebersihkan saluran air bawah tahan di kota Solo dan mengalirkannya ke kali pepe.

Ikon Srimulat dan ketoprak Tobong
Gedung ketoprak adalah ikon kejayaan Taman Balekambang sebelum “kehilangan roh” di era 1980-an. Di gedung inilah legenda hidup Srimulat dilahirkan oleh tangan Teguh Srimulat, yang dilahirkan dengan nama Kho Tjien Tiong. Maestro kelahiran 1926 ini lah pendiri dari Srimulat. Nama Srimulat sendiri diambil dari nama istri pertamanya, Raden Ayu Srimulat, putri seorang wedana di daerah Bekonang yang pada saat menikah usia Teguh terpat lebih muda 18 tahun dari R.Ay Srimulat.

Ketoprak Tobong atau yang dikenal dengan ketoprak Balekambang juga sempat merasakan manisnya kebesaran Taman Balekambang. Dengan memanfaatkan bekas gedung Srimulat solo, komunitas tobong terus berkarya dan berkesenian di sini.

Hingga di era akhir 80-an dengan semakin berkemangnya media hiburan terutama televisi, para penonton seakan segan untuk melirik kesenian ini hingga benar-beanr menyebebkan mati surinya kesenian ini di akhir era 80-an.

Keunikan tersendiri dari Tobong Balekambang adalah para pemain tobong juga tinggal di sekitaran gedung tempat mereka melakukan pementasan, namun sungguh ironis ketika kesenian ini mati suru di akhir 1980-an. Taman Balekambang yang di siang hari ramai karena dipenuhi oleh “anak tobong” disiang hari menjadi sangat sepi, karena mereka harus mengais rejeki di saat sulitnya hidup yang hanya mengandalkan dari hasil pementasan tobong. Di kala itu tiket pementasan dijual antara 2500-3000 rupiah dengan jumlah penonton yang hanya bisa dihitung dengan jari.

Berbeda kondisi ketika malam hari tiba, dinamisnya aksi panggung walau sepi pengunjung tetap mereka pertahankan. Apa yang mereka bangun dari awal, yakni kesenian tobong telah menjadi way of life bagi mereka.

Sekarang taman Balekambang telah direvitalisasi, nampaknya kejayaan masa lalunya telah kembali. Pemugaran dan penambahan fasilitas sudah sangat baik sekali, sanitasi dan aspek kebersihan juga menjadi salah satu keunggulan dari taman ini. lahan Parkir dan Fasilitas hot spot serta pedagang kaki lima tak ketinggalan meramaikan Balekambang di era nya Pak Jokiwi. Tak lupa pengadaan 3 ekor rusa dan tanaman langka menjadikan Balekambang benar-benar seperti yang diinginkan oleh Partini dan Partinah. Revitalisasi telah selesai, kejayaan masa lalu telah kembali dan saatnya sekarang bagi kita untuk melestarikan tempat yang sarat manfaat dan sejarah seperti taman Balekambang

1 komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...